| Isak tangis bagaikan suara lalat mendesis, lengkingan suara ribuan minta tolong hanya sebatas singa mengaum-ngaum. ada yang berlutut menundukan kepala, pasrah dengan fenomena neraka kecil disekelilingnya, ada mereka yang menegapkan dada, menggulung lengan, berjalan bagaikan panglima perang dengan kuda dan pelana yang gagah yang jalannya takan terseokkan, disana ada mereka sekumpulan tubuh kecil mungil memijak tanah yang berwarna cokelat . sepanjang hari mereka menghirup asap senjata luruh dalam paru, sepanjang hari bola mata mereka bersahabat dengan debu jalan, sepanjang hari mereka menjadi malang, pelukan ibu tergantikan dengan panas membara letupan senjata para pemburu pembunuh peradaban. nun jauh disana, tangan mungil mereka tak lagi bisa memegang sebotol susu sapi hangat. malang, teramat malang, ketika tak ada lagi yang peduli dengan istirahat terakhir mereka, tempatnya ia tumbuh hanya dilewati tentara "binal" , dan pandangan itu membelalakkan mata mereka, mengangakan ruas kerongkongan, lelaki kecil di ujung Palestina luruh dalam letupan, letupan luapan tentara "binal" . |
|
|
| | | | | | | | | |
|
|
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar