?
Begitu asing, ditempat yang bising
Suara seakan melengking di ruang hati yang kering
Aku begitu dingin malam ini
Tidak pasti apa yang begitu mengusik
Ada yang menggeliat, ada yang menghimpit
Teramat penat, sungguh
Sadarku hanya satu hal
Dia tak lagi tinggal, dan aku terpental
Aku sudah berlari waktu itu
Sekuat tenaga hingga lutut gemetarpun tak aku hiraukan
Tersenggal senggal pun waktu itu
Tetap saja, aku berlari
Tetapi setibanya hari ini
Tepat saat aku begitu merindukannya
Rindu yang sudah mengepal membatu
Melumat habis akal sehat,
Terpelantinglah semua.. Sejuta partikel angan
Fantasi nakal yang begitu maha
Lenyap sudah
Si 'bahagiaku' kembali merengkuh 'bahagianya'
Ah, pikirku mungkin tuhan sedang bercanda dengan ku sepekan ini
"hahah tuhan, engkau sungguh jenaka"
Iya, ini hanya lelucon. ini sepenggal lelucon
Lelucon yang biadab, sungguh
Sabtu, 23 Maret 2013
Minggu, 24 Februari 2013
Kenapa Masih Bertahan?
sudahi saja kayuhanya
menepilah sebentar
sandarkan peluh itu
lihatlah,
lututmu gemetar
kenapa masih bertahan?
sudahi saja kayuhanya
menepilah sebentar
sandarkan peluh itu
lihatlah,
lututmu gemetar
kenapa masih bertahan?
Enyahlah Aku, Inginmu
gradasi warna pelangi dikelabunya awan hari ini
menyelipkan serpihan ingatanku
tentang, kelemahanku
kelemahanku, dialah seluruh ragaku
dialah yang mengikat darah dalam aliran nadi
dialah penghimpun denyut jantung disetiap seperdetik ku
dialah udara disetiap harumnya tanah sehabis hujan
tapi,
aku bukanlah segalanya
secuilpun tidak baginya
tak apa ..
katakan padaku,
teriakan ke seluruh penjuru
teriakan hingga kerongkonganmu kering
hingga mulutmu menjadi masam
berteriaklah, bagaikan deruh ombak
bagaikan gulungannya pula
hingga tiba dan menghantam bibir pantai
"enyahlah"
enyahlah aku, dan itu inginmu
tidak !
bukan seperti itu
baiknya, biarkan kakimu sendiri yang berderak pergi
biarkan aku menikmati punggungmu ketika beranjak
dan..
baik biarkan saja aku bediri disini
hingga senja yang jingga menelisik
hingga pagi berbisik pada embun
dan embun melesap disela sengatan binar mentari pagi
cahanya menjadikan bayanganmu begitu indah
berlarilah kasih,
tak apa ..
namun,
suatu hari yang pasti nanti
jika lelahmu tiba
aku dengan ingatan segala tentangmut
tentang debar jantungmu yang sempat terekam
datanglah padaku
disini,
selalu pasti ada hangat peluk untukmu.
gradasi warna pelangi dikelabunya awan hari ini
menyelipkan serpihan ingatanku
tentang, kelemahanku
kelemahanku, dialah seluruh ragaku
dialah yang mengikat darah dalam aliran nadi
dialah penghimpun denyut jantung disetiap seperdetik ku
dialah udara disetiap harumnya tanah sehabis hujan
tapi,
aku bukanlah segalanya
secuilpun tidak baginya
tak apa ..
katakan padaku,
teriakan ke seluruh penjuru
teriakan hingga kerongkonganmu kering
hingga mulutmu menjadi masam
berteriaklah, bagaikan deruh ombak
bagaikan gulungannya pula
hingga tiba dan menghantam bibir pantai
"enyahlah"
enyahlah aku, dan itu inginmu
tidak !
bukan seperti itu
baiknya, biarkan kakimu sendiri yang berderak pergi
biarkan aku menikmati punggungmu ketika beranjak
dan..
baik biarkan saja aku bediri disini
hingga senja yang jingga menelisik
hingga pagi berbisik pada embun
dan embun melesap disela sengatan binar mentari pagi
cahanya menjadikan bayanganmu begitu indah
berlarilah kasih,
tak apa ..
namun,
suatu hari yang pasti nanti
jika lelahmu tiba
aku dengan ingatan segala tentangmut
tentang debar jantungmu yang sempat terekam
datanglah padaku
disini,
selalu pasti ada hangat peluk untukmu.
Sabtu, 23 Februari 2013
Selasa, 19 Februari 2013
Senin, 18 Februari 2013
Dinding-Dindingku
Belajarlah pada embun, tak pernah mengutuk matahari
Yang menjadikannya tiada, walau denyut masih panjang.
Sementara dinding-dindingku terbatas oleh hari
Melulu umpatan ketidakpastian yang lengang.
Belajarlah pada ikan, yang mengabdi pada nelayan
Yang membuatnya bermakna, walau terbelenggu
Aku Kelimpungan
ini dan itu mempunyai batasan
ini dan itu mempunyai waktunya
ini dan itu ada saatnya
ini dan itu ada pemberhentianya
ini dan itu ada jedanya
mungkin, ini dan itu juga mempunyai akhir
titik lelah? dimana letaknya?
kapan tibanya?
seringkali, aku mencoba menciptakan titik lelah itu sendiri
berulangkali, bahkan kerapkali
menciptakan titik lelah bukan sekedar
memantulkan tinta dan menitipkannya pada sehelai kertas
tidak seperti itu,
dalam hal ini, aku kelimpungan untuk mengenal diri sendiri
bayangkupun tak seperti diriku
ia tak sama lagi tampaknya
entahlah,
apa yang salah? ketika kita menyayangi
kita lupa dengan waktu yang berada ditengah kita?
ketika kita mencinta, tidak kita rasakan peluh yg membunuh uluh?
kamu,
aku mencintaimu, kelam
aku mencintaimu, dalam
aku mencintaimu, malam
aku mencintaimu, hitam
dan aku mencintai kamu, saat ini
dan esok entahlah
biarkan aku yang peluh melepas segala utuh cinta untukmu
Langganan:
Postingan (Atom)

