Sabtu, 23 Maret 2013

 ?

Begitu asing, ditempat yang bising 
Suara seakan melengking di ruang hati yang kering
Aku begitu dingin malam ini 
Tidak pasti apa yang begitu mengusik 
Ada yang menggeliat, ada yang menghimpit
Teramat penat, sungguh 
Sadarku hanya satu hal
Dia tak lagi tinggal, dan aku terpental
Aku sudah berlari waktu itu 
Sekuat tenaga hingga lutut  gemetarpun tak aku hiraukan
Tersenggal senggal pun waktu itu 
Tetap saja, aku berlari
Tetapi setibanya hari ini 
Tepat saat aku begitu merindukannya
Rindu yang sudah mengepal membatu
Melumat habis akal sehat,
Terpelantinglah semua.. Sejuta partikel angan
Fantasi nakal yang begitu maha
Lenyap sudah
Si 'bahagiaku' kembali merengkuh 'bahagianya' 
 
Ah, pikirku mungkin tuhan sedang bercanda dengan ku sepekan ini
"hahah tuhan, engkau sungguh jenaka"
Iya, ini hanya lelucon. ini sepenggal lelucon 
Lelucon yang biadab, sungguh 

Minggu, 24 Februari 2013

Kenapa Masih Bertahan?

sudahi saja kayuhanya

menepilah sebentar
sandarkan peluh itu
lihatlah,
lututmu gemetar

kenapa masih bertahan?

Enyahlah Aku, Inginmu


gradasi warna pelangi dikelabunya awan hari ini
menyelipkan serpihan ingatanku
tentang, kelemahanku

kelemahanku, dialah seluruh ragaku
dialah yang mengikat darah dalam aliran nadi
dialah penghimpun denyut jantung disetiap seperdetik ku
dialah udara disetiap harumnya tanah sehabis hujan

tapi,
aku bukanlah segalanya
secuilpun tidak baginya

tak apa ..

katakan padaku,
teriakan ke seluruh penjuru
teriakan hingga kerongkonganmu kering
hingga mulutmu menjadi masam
berteriaklah, bagaikan deruh ombak
bagaikan gulungannya pula
hingga tiba dan menghantam bibir pantai
"enyahlah"

enyahlah aku, dan itu inginmu

tidak !
bukan seperti itu
baiknya, biarkan kakimu sendiri yang berderak pergi
biarkan aku menikmati punggungmu ketika beranjak
dan..
baik biarkan saja aku bediri disini
hingga senja yang jingga menelisik
hingga pagi berbisik pada embun
dan embun melesap disela sengatan binar mentari pagi
cahanya menjadikan bayanganmu begitu indah
berlarilah kasih,
tak apa ..

namun,
suatu hari yang pasti nanti
jika lelahmu tiba
aku dengan ingatan segala tentangmut
tentang debar jantungmu yang sempat terekam
datanglah padaku
disini,
selalu pasti ada hangat peluk untukmu.





Sabtu, 23 Februari 2013

"have someone you love hold you"

Selasa, 19 Februari 2013

         Isak tangis bagaikan suara lalat mendesis, lengkingan suara ribuan minta tolong hanya sebatas singa mengaum-ngaum. ada yang berlutut menundukan kepala, pasrah dengan fenomena neraka kecil disekelilingnya, ada mereka yang menegapkan dada, menggulung lengan, berjalan bagaikan panglima perang dengan kuda dan pelana yang gagah yang jalannya takan terseokkan, disana ada mereka sekumpulan tubuh kecil mungil memijak tanah yang berwarna cokelat . sepanjang hari mereka menghirup asap senjata luruh dalam paru, sepanjang hari bola mata mereka bersahabat dengan debu jalan, sepanjang hari mereka menjadi malang, pelukan ibu tergantikan dengan panas membara letupan senjata para pemburu pembunuh peradaban. nun jauh disana, tangan mungil mereka tak lagi bisa memegang sebotol susu sapi hangat. malang, teramat malang, ketika tak ada lagi yang peduli dengan istirahat terakhir mereka, tempatnya ia tumbuh hanya dilewati tentara "binal" , dan pandangan itu membelalakkan mata mereka, mengangakan ruas kerongkongan, lelaki kecil di ujung Palestina luruh dalam letupan, letupan luapan tentara "binal" .









Senin, 18 Februari 2013


Dinding-Dindingku


Belajarlah pada embun, tak pernah mengutuk matahari
Yang menjadikannya tiada, walau denyut masih panjang.
Sementara dinding-dindingku terbatas oleh hari
Melulu umpatan ketidakpastian yang lengang.
Belajarlah pada ikan, yang mengabdi pada nelayan
Yang membuatnya bermakna, walau terbelenggu

Aku Kelimpungan 


ini dan itu mempunyai batasan
ini dan itu mempunyai waktunya
ini dan itu ada saatnya
ini dan itu ada pemberhentianya
ini dan itu ada jedanya
mungkin, ini dan itu juga mempunyai akhir

titik lelah? dimana letaknya?
kapan tibanya?
seringkali, aku mencoba menciptakan titik lelah itu sendiri
berulangkali, bahkan kerapkali
menciptakan titik lelah bukan sekedar 
memantulkan tinta dan menitipkannya pada sehelai kertas
tidak seperti itu,

dalam hal ini, aku kelimpungan untuk mengenal diri sendiri
bayangkupun tak seperti diriku
ia tak sama lagi tampaknya
entahlah,
apa yang salah? ketika kita menyayangi 
kita lupa dengan waktu yang berada ditengah kita?  
ketika kita mencinta, tidak kita rasakan peluh yg membunuh uluh?

kamu,
aku mencintaimu, kelam
aku mencintaimu, dalam
aku mencintaimu, malam
aku mencintaimu, hitam
dan aku mencintai kamu, saat ini 
dan esok entahlah
biarkan aku yang peluh melepas segala utuh cinta untukmu